Pada tanggal 24-25 mei kemarin kami berkesempatan mendaki gunung slamet via Bambangan, jalur ini rute yang relative lebih mudah dibandingkan 2 jalur lainnya. Enam personil team terdiri dari Bagas, Abi, Ipil, Zombie, John Lembo “Arief”, dan Tommy berangkat menuju Purbalingga pada hari Jumat 24 Mei 2013 menggunaan kendaraan umum, berbekal data-data sederhana dari beberapa rekan yang pernah kesana, ditambah catatan perjalanan ynag didapat via internet akhirnya kami mantap melakukakan pendakian. Medan pendakian gunung slamet sebenarnya tidak jauh berbeda dengan gunung-gunung lain yang pernah kami daki seperti Sindoro dan Sumbing, perbedaan mencolok yang terlihat adalah vegetasi hutan yang masih sangat lebat dan alami, benar- benar hutan belantara dengan pohon besar dan tinggi. Medan pendakian dengan kondisi tanah basah sedikit menyulitkan perjalanan saat hujan turun. Ada 9 pos pendakian yang harus dilalui sebelum mencapai puncak slamet, masing-masing pos rata-rata memiliki tempat yang cukup luas untuk dijadikan tempat camp, namun tempat favorit yang dijadikan tempat camp adalah pos 5 & 7, selain tidak terlalu jauh dari puncak juga terdapat sumber mata air. Sedangkan pos 4 (samarantu) merupakan tempat yang jarang dipakai buat tempat camp. Menurut mitos setempat di pos ini sering ada penampakan makhluk halus. Percaya atau tidak itu merupakan kearifan lokal yang tak ada salahnya untuk dihargai .
Kami sendiri memilih untuk mendirikan camp di pos 5, dimana telah banyak pendaki lain yang juga mendirikan camp di pos tersebut, jarak pos 5 menuju puncak kurang lebih 2,5 jam perjalanan. Hjan deras malam tadi menghalangi rencana kami untuk melihat sunset dari puncak Slamet. Akhirnya baru pada pagi harinya kami melakukan pendakian ke puncak. Kabut yang turun cukup tebal tak menyurutkan niat kami untuk menjejakkan kaki di puncak gunung slamet. Sesampainya kami menjejaki puncak,sujud syukur atas keagungan Tuhan tak lupa kami panjatkan. Ceremonial sederhana,pengibaran panji organisasi sebagai bentuk kecintaan selalu jadi ritual yang mengharukan. Selain kami,banyak kelompok lain yang juga mendaki gunung slamet, mulai dari sispala, mapala, freelance serta penduduk setempat. Tak jarang tegur hangat persahabatan saling di tebarkan sebagai sesama pendaki, hal yang membuat kami selalu rindu untuk terus menjejaki puncak” di pelosok negeri ini atau di luar sana.
“Siapapun mungkin bisa mendaki gunung, tetapi menjadi pendaki yang seperti apa itu yang menjadi hak kita. Gunung bisa saja menjadi tempat terindah atau bahkan menjadi tempat tersial bagi kita.”Salam lestari….. Oleh:
iyurie













Saling Sapa