Naik-Naik Ke Puncak Gunung -Turun Kemampuan Otak

8 06 2009

aconcaguaSetiap tahun sekitar 5.000 pendaki menapaki pegunungan Himalaya. Ribuan lagi mendaki pegunungan Andes dan Alpen. Mencapai puncak-puncak gunung tertinggi di dunia memang sudah kadung jadi obsesi setiap pendaki gunung. Mereka menikmati detik-detik istimewa di puncak tertinggi yang kenangannya tak lekang seumur hidup. Namun kian hari kian jelas bahwa saat-saat terindah itu harus dibayar dengan kerusakan otak permanen sampai akhir hayat.

Neurolog Nicolás Fayed dari Spanyol dan timnya melaporkan telah menemukan kerusakan otak pada semua pendaki G. Everest (8.848 mdpl—meter di atas permukaan laut), Himalaya, dan pendaki G. Aconcagua (6.962 mdpl), dan G. Mount Blanc (4.810 mdpl), Tak peduli pendaki profesional maupun amatir (weekend warrior), otak mereka nyaris semuanya menunjukkan kerusakan setelah pendakian. Temuan Fayed dkk telah dipublikasikan di American Journal of Medicine edisi Februari 2006.

Semakin tinggi suatu tempat di Bumi, semakin menipis tekanan udara di kawasan itu. Tekanan yang merosot, berdampak pada berkurangnya pasokan oksigen. Kondisi ini bisa berdampak buruk pada fisik pendaki. Dampak buruk ada yang kontan muncul hanya ketika masih ada di lokasi, tapi ada juga yang bersifat permanen seumur hidup.

Dampak buruk di lokasi misalnya mabuk gunung (mountain sickness) yang muncul sebagai pusing, susah tidur, mual, kelelahan, sesak nafas, dan muntah. Tapi, masih ada tahap berikutnya yang lebih gawat, yakni HACE (high altitude cerebral edema).

Kondisi miskin oksigen juga menyebabkan pembuluh darah di otak bocor. Cairan yang bocor menekan otak mengembang sampai mendesak tengkorak. Sering juga syaraf penglihatan membengkak sedemikian buruk sampai-sampai menggelembungkan bola mata dan membuat retina banjir darah.

Dalam kondisi kurang air (dehidrasi) dan meningkatnya sel darah merah membuat stroke menjadi ancaman biasa bagi para pendaki. Pendaki yang terserang HACE akan mengalami amnesia, bingung, halusinasi, gangguan emosional, dan pada akhirnya pingsan.

Gejala tersebut di atas sudah lama diketahui, namun penemuan Fayed dkk menemukan bentuk kerusakan yang lebih permanen pada otak. Ia memindai otak 35 pendaki, 23 amatir dan selebihnya profesional. Dari 13 pendaki G. Everest yang diteliti, tiga orang mencapai puncak, tiga orang sampai 8.100 mdpl, dan tujuh orang sampai ketinggian 7.500 – 6.500 mdpl.

Kecuali satu pendaki profesional, semua pendaki G. Everest pulang dengan mount_blancpembengkakan kawasan otak yang dikenal sebagai VR (Virchow-Robin). Pendaki amatir mengalami pembengkakan paling parah dibanding rekan-rekannya yang profesional.

Kawasan ini pada kondisi normal mengurung pembuluh darah yang memasok darah ke otak dan berhubungan dengan system limpa. Membengkaknya kawasan ini mengganggu fungsi-fungsi kawasan ini. Pembengkakan kawasan VR lazim ditemui pada orang lanjut-usia tapi tidak pada anak-anak muda. Sebanyak delapan pendaki G. Aconcagua—dua orang mencapai puncak, lima orang sampai ketinggian 6.000 – 6.400 mdpl—semuanya mengalami pembengkakan VR. Beberapa sudah sangat parah sehingga tidak perlu dipindai lagi untuk memastikan kerusakan ini.

Seorang pendaki mengalami aphasia—masalah ketika berbicara—dan baru pulih enam bulan kemudian. Dua orang mengeluh pikun dan tiga pendaki mengalami bradypsychia—gejala merosotnya kemampuan mental. G. Mount Blanc di Pegunungan Alpen, tidak setinggi dua puncak tersebut di atas. Pendakian ke kawasan ini termasuk ringan dibanding ke G. Aconcagua atau G. Everest.

Tim Fayed menemukan dari tujuh pendaki G. Mount Blanc, dua mengalami pembengkakan VR. Tiga tahun setelah pendakian, tim peneliti memindai otak para pendaki. Hasil pemindaian memperlihatkan kerusakan pada otak bergeming.

Mendaki gunung, apalagi yang tergolong Seven Summit, adalah kegiatan populer dengan seabrek alasan bagus, seperti pengalaman sekali seumur hidup, bersatu dengan alam, menemukan teman baru, atau memperkaya spiritualitas. “Because It’s there”, kata George Mallory. Tapi kini kian jelas bahwa kerusakan otak permanen adalah bayaran kontan atas segala alasan bagus itu.

source URL : http://jejakpetualang.multiply.com/notes/item/105



Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: