MENGEMBARA DI BALIK HUTAN UNGARAN

18 03 2015

Hari ini kami sangat bersemangat, karena Diksar XIII akan bergegas melaksanakan pengembaraan yang sempat tertunda karena gunung Arjuan-Welirang mengalami kebakaran. Detik terus berganti, jam sudah menunjukkan pukul 13.00. Seluruh anggota team mulai berdatangan dan melakukan persiapan. Sayup – sayup adzan ashar berkumandang. Sebelum bergegas sebaiknya kita shalat dan berdoa.

Keberangkatan kami diselingi dengan acara foto bersama dan pelepasan oleh Dewan Penasehat. Sekiranya cukup, rombongan kami mulai meluncur, meter demi meter jalanan kami lewati,dalam perjalanan kita sempatkan diri untuk sejenak meluruskan kaki sambil mengisi perut dulu di daerah Kopeng lereng Merbabu. Sekiranya cukup kami melanjutkan perjalanan,tepat pada pukul 08:00 tiba di tempat lokasi.

Biaya masuk kawasan candi

Biaya masuk kawasan candi

Kami bertanya kepada warga di sana tentang penitipan motor. Maklum memang di sana tidak terdapat base camp pendakian. Di sana kebetulan sedang ada acara dangdutan sehingga memudahkan kami untuk bertanya, namun banyak warga yang tidak tahu,mungkin karena saking jarangnya pendaki melewati rute ini. Akhirnya kami mendapatkan informasi jika orang yang kami maksud adalah pak sutris, tempat biasa pendaki menitipkan motor. Kami langsung mendatangi rumah beliau dan mengutarakan maksud tujuan kami. Pak Sutris pun menyambut hangat kedatangan kami.

Rumah beliau tidak cukup lebar untuk kami singgah, maka kami mendirikan dome di sekitar camping ground di dalam candi. Saat kami sedang sibuk membangun dome ada dua warga yang lewat dan menyarankan kami untuk pindah lokasi karena tempat yang kami gunakan adalah tanah milik dinas kehutanan. Kami di sarankan untuk ngecamp di pendopo bawah saja. Akhirnya dome kami packing lagi dan menuju pendopo bawah. Karena tempat di rasa nyaman tanpa membangun dome akhirnya kami hanya menggelar matras dan sleeping bag saja. Sepertinya badan ini sudah tidak mau di jak kompromi,  dalam waktu sekejap kami pun terlelap.

HARI PERTAMA

Pagi itu begitu segar, sayup – sayup mata kami terbuka. Candaan candaan ringan mulai terdengar ,nampaknya seluruh team sudah terbangun,pantas saja jam tanganku sudah menunjukan pukul 06.00. Segera saja ku ajak Pipit untuk turun untuk membeli sarapan. Begitu kami selesai menyantap sarapan, jam sudah menunjukan pukul 07:00.

IMG_2263

Kawasan Candi Gedong Songo

Mentari sudah mulai meninggi, kami tidak mau membuang banyak waktu. Sebelum berangkat kami melakukan brefing terlebih dahulu, pemanasan lalu berdoa bersama. Kami membagi tim menjadi dua kelompok tugas, kelompok pertama bertugas untuk ploting koordinat dan mentracking jalur pendakian yang terdiri dari Saya, Bachrul dan Hendras. Sedangkan kelompok yang kedua bertugas mengidentifikasi tanaman sepanjang jalur pendakian yang terdiri dari Aneri, Baktiar, Wawan dan Pipit.

 Tepat pukul 08.00 kami memulai pendakian. Awal perjalanan kami melewati macadam dengan ketingggian 1200 mdpl lalu dilanjutkan jalan setapak yang makin lama semakin menanjak. Tak heran karena posisi kami saat itu berada pada daerah dengan kerapatan kontur yang tinggi, bahkan harus menggunakan bantuan tali yang sudah tersedia di sana untuk mempermudah naik.

Berdoa setiap melakukan kegiatan

Berdoa setiap melakukan kegiatan

Siang itu sungguh menyengat kulit. Setelah kami lewati tanjakan terjal yang cukup menguras energi, kini kami harus memutar mengitari bukit dengan vegetasi ilalang dan semak belukar.Trek sudah mulai bersahabat namun mentari yang di atas sungguh menguji mental kami. Setelah memutar kami memasuki medan yang berbeda, selanjutnya kami memasuki hutan hujan tropis. Tak di sangka, hutan begitu lebat dan lembab sehingga sinar matahari tak mampu menyibak kerapatan hutan. Hutan ini didominasi oleh tumbuhan berkayu dan berkambium. Pohon – pohon di sana cukup besar dan lebat serta diselimuti oleh lumut. Trek yang dihadapi tak menentu, kadang naik dan kadang turun. Di tengah hutan kami menemukan tempat yang lumayan lapang, lalu kami memutuskan untuk singgah sebentar sambil meluruskan otot – otot kaki.  Kami sempat memasak mie instan untuk mengisi tenaga.

Tempat istirahat dan memasak

Tempat istirahat dan memasak

Selepas dzuhur kami melanjutkan perjalanan lagi. Kami makin dalam masuk kedalam hutan. Beberapa tanjakan – tanjakan terjal menguji mental kami. Tak disangka kami tidak berpapasan dengan satupun pendaki, kami hanya berpapasan dengan warga lokal saja.

Setelah melewati tanjakan terjal, trek mulai landai bahkan turun. Kami pun mulai cemas, kami khawatir jika kami salah jalan. Namun kami masih tetap saja melanjutkan perjalanan. Ketika melewati sebuah tikungan yang agak landai kami kaget dan berbalik arah. Seonggok bangkai anjing hutan tergeletak di pinggir jalur pendakian. Kami mulai khawatir, lalu kami putuskan istirahat sejenak untuk membuka peta. Bahkan kami harus survei jalur terlebih dahulu untuk membuktikan apakah jalur ini benar atau memang kami salah jalur.

Hutan tropis ungaran

Hutan tropis ungaran

Setelah yakin bahwa kami berada di jalur pendakian yang benar, kami kembali melanjutkan perjalanan. Medan kali ini cenderung datar namun memutar dengan di sebelah kiri jurang dan sebelah kanan bukit. Setelah sekian lama berjalan kami tiba di suatu pertigaan. Tempatnya landai namun tidak memungkinkan untuk ngecamp karena tempat tersebut diselimuti oleh semak belukar Disini pro dan kontra pendapat pun mulai bermunculan. Jika dilihat pada peta puncak gunung Ungaran berada di sebelah kiri, namun jika dilihat menurut titik ketinggian pada peta berada di sebelah kanan.

Mengindentifikasi Tumbuhan

Mengindentifikasi Tumbuhan

Akhirnya kami sepakat untuk mengecek puncak sebelah kanan terlebih dahulu karena memang tak ada plang marka jalan. Saya dan Baktiar mulai berjalan mengecek jalur. Jalannya sangat terjal dan tidak masuk akal. Dari sini terlihat samar – samar jauh di sana terdapat 3 tugu berwarna putih. Kami yakin bahwa di sanalah puncak yang kami maksud. Kami turun dengan sangat hati – hati, bahkan hanya menggunakan bantuan selendang yang saling terikat pada tangan masing – masing, karena memang kami tidak membawa webbing, hanya sebuah parang saja yang kami bawa. Sesampainya di pertigaan kami langsung bergegas melanjutkan perjalanan ke arah kiri. Sekitar 15 menit perjalan, terdapat dataran yang cukup untuk tiga tenda.

Hari sudah mulai gelap, akhirnya kami memutuskan untuk ngecamp di tempat tersebut. Tenda  mulai berdiri, asap – asap kompor mulai mengepul, piring – piring lapar mulai terisi nasi dan lauk. Kami sudah lapar, tanpa pikir panjang kami langsung menyantap hidangan sederhana ini. Malam hari kami habiskan mengobrol di samping api unggun  lalu kami masuk kedalam tenda masing masing untuk istirahat dan tidur.

Ploting jalur Gn.Ungaran

Ploting jalur Gn.Ungaran

HARI KEDUA

Pagi itu kami dibangunkan oleh kicauan burung. Saya lihat jam sudah menunjukan pukul 05.30. Kami langsung melakukan persiapan untuk summit attack, tepat pukul 06.00 kami memulai perjalanan menuju puncak. Treknya menanjak dan berbatu dengan latar belakang  hutan yang lebat dan lembab, setelah itu treknya mulai landai bahkan terdapat dataran yang cukup luas disekitar puncak untuk camping ground. Setelah berjalan sekitar 15 menit kami sudah sampai di puncak Ungaran. Puncak Ungaran terdiri dari tiga tugu putih berjajar dan sebuah tiang bendera. Puncaknya tidak begitu luas namun datar. Kami langsung mendokumentasikan moment ini. Tak lupa kami melakukan ceremonial sederhana di sana, sekitar pukul 08.00 kami turun menuju tempat camp. Setiba di tenda kami langsung membagi tugas, ada yang packing dan memasak agar kami dapat menyingkat waktu. Setelah semua beres dan perut sudah terisi kami melanjutkan perjalanan untuk turun.

Puncak Rider

Puncak Rider

Gila-gilaan dipuncak ungaran

Gila-gilaan dipuncak ungaran

Kami merasa perjalanan turun begitu cepat. Mungkin di hari kemarin kami terlalu sering beristirahat sehingga waktu kami tersita. Sesekali kami membuka gps untuk memastikan apakah jalur sudah tertracking sempurna atau tidak. Sekitar pukul 14:00 kami sudah tiba di kawasan candi. Kami mandi terlebih dahulu lalu turun mengambil motor. Tak kami sangka,  biaya parkir motor sangat mahal. Dua hari menginap dikenakan tarif 20 ribu/motor. Kami mau tak mau harus tetap membayar. Mungkin karena yang mendaki di jalur ini jarang dan tak ada basecamp pendakian yang resmi sehingga mereka memasang tarif mahal. Kami melanjutkan perjalanan pulang ke Jogja dengan santai. Kami tiba di Jogja ba’da isya dan disambut hangat oleh kawan – kawan Makupella, mungkin mereka telah rindu dengan kami.

Ceremonial di Puncak Ungaran

Ceremonial di Puncak Ungaran

Riang gembira di puncak ungaran

Riang gembira di puncak ungaran

By:Arief Kurniawan 111


Actions

Information

One response

18 03 2015
Aneri Handayani

Reblogged this on Aneri Handayani.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: